Mulai Menulis
Lihat ke Halaman Asli
Sri Wintala Achmad
TERVERIFIKASI
Biografi Sri Wintala Achmad
FOLLOW
Membuka Tabir Kapitayan, "Agama Kuna" di Tanah Jawa
13 Desember 2019 01:30 |
Diperbarui: 18 Juni 2021 14:04
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
https://s1.bukalapak.com/img/19549247751/w-1000/data.png, Araska Publisher Yogyakarta
https://s1.bukalapak.com/img/19549247751/w-1000/data.png, Araska Publisher Yogyakarta
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik
SEBELUM awal perhitungan Masehi, telah ada satu keyakinan Keesaan Tuhan di Jawa. Para leluhur orang Jawa sudah menyadari bahwa keyakinan untuk dipercaya dan dijalankan ajarannya, bukan menjadi bahan perdebatan atau sebagai sumber pertikaian dan perang. Karenanya mereka sudah membekali diri dengan pengetahuan tentang Dzat Tertinggi dan bagaimana menemukan-Nya.
Orang Jawa telah percaya keberadaan suatu entitas tidak kasat mata namun memiliki kekuatan adikodrati yang menyebabkan kebaikan dan keburukan dalam kehidupan manusia. Mereka tidak pernah menyembah selain Tuhan. Karenanya mereka tidak menyembah Dewa atau Bhatara yang diyaikini sebagai makhluk Tuhan. Mereka hanya menyembah Tuhan yang disebut Sang Hyang Taya.
Pada masa itu orang Jawa belum memiliki kitab suci, tetapi mereka telah memiliki bahasa sandi yang disimbolkan (disiratkan) dalam semua sendi kehidupan dan memercayai ajaran yang tertuang di dalamnya tanpa mengalami perubahan karena memiliki aturan baku. Kesemuanya merupakan ajaran yang tersirat untuk membentuk laku utama yaitu tata krama (aturan hidup yang luhur) serta menjadikan orang Jawa sebagai sosok anjawani (berkepribadian orang jawa).
Orang Jawa yang memahami etika senantiasa menerima ajaran agama yang dibawa oleh kaum migran (Hindu, Buddha, Islam, Nasrani, dan lainnya) selama memiliki sama dengan ujung monoteisme. Karenanya banyak agama yang dibawa kaum migran memilih basis dakwahnya dari Jawa.
Leluhur orang Jawa selalu melihat bahwa agama sebagai seperangkat cara pandang dan nilai-nilai yang disertai dengan sejumlah laku. Ajaran mereka tidak terpaku pada aturan ketat dan menekankan pada konsep "keseimbangan". Mereka hampir tidak pernah mengadakan kegiatan perluasan ajaran, tetapi melakukan pembinaan secara rutin.
Simbol-simbol laku berupa perangkat adat asli Jawa, seperti: keris, wayang, pembacaan mantra, atau penggunaan bunga-bunga tertentu ber makna simbolik mengekspresikan wibawa magis, dan bukan inti ajarannya. Memang tidak bisa dipungkiri telah banyak penghayat Kejawen dengan mudah memanfaatkan ajaran leluhur melalui praktik klenik dan perdukunan, padahal tindakan itu tidak ada dalam ajaran para leluhur.
Baca juga: Sekilas Agama Kuno Kapitayan di Indonesia
Dasar Pemahaman Ajaran Kapitayan
Sebelum masuknya agama Islam, sudah ada agama kuna di tanah Jawa yakni Kapitayan -- yang menurut sejarawan Belanda sebagai Animisme dan Dinamisme. Agama tersebut merupakan perkembangan dari ajaran dan keyakinan kepada Sang Hyang Taya.
Sang Hyang Taya yang menjadi pujaan para penganut Kapitayan tersebut memiliki makna "hampa" atau "kosong". Orang Jawa mendefinisikan Sang Hyang Taya dalam satu kalimat, "Tan kena kinaya ngapa" (Tidak bisa diapa-apakan keberadaannya). Karenanya agar bisa disembah, Sang Hyang Taya memribadi dalam nama dan sifat "Tu" atau "To", yang bermakna daya gaib dan bersifat adikodrati.
Dalam bahasa Jawa kuna, kata "taya" diartikan dengan kosong atau hampa namun bukan berarti tidak ada. Istilah "taya" digunakan untuk mendefinisikan kalimat tan kena kinaya ngapa, sesuatu yang tidak bisa dilihat atau diangan-angan. Sesuatu yang ada namun tidak ada.
Halaman Selanjutnya
BERI NILAI
Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
Aktual Bermanfaat Inspiratif Menarik Menghibur Unik
BERI KOMENTAR
Kirim
Humaniora
Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Konten Terkait
7 Kebiasaan Anak Indonesian Hebat : Melindungi Anak di Era Digital
7 Kebiasaan Anak Indonesian Hebat : Melindungi Anak di Era Digital
Lingkungan Keluarga sebagai Faktor Pemicu Pergaulan Bebas di Kalangan Remaja
Lingkungan Keluarga sebagai Faktor Pemicu Pergaulan Bebas di Kalangan Remaja
Lagu - Pelukan Tuhan di Rumah Nasi Aking
Lagu - Pelukan Tuhan di Rumah Nasi Aking
Video Pilihan
Terpopuler
Menyeimbangkan Nalar Efisiensi dan Hati Nurani : Sebuah Refleksi Bagi Masa Depan Pendamping Desa #KompasianaDESA
Mens Rea Pandji: Niat Jahat Bernilai Fantastis
JF Pengawas Sekolah Dihapuskan, Pemprov Banten Malah Lantik 59 Pengawas Baru
Ini Prediksi Skor Antara Atletico Madrid vs Real Madrid di Semifinal Super Cup Spanyol 9 Januari 2026 Pukul 02.00 WIB di Jeddah
Ini Prediksi Big Match Antara Arsenal vs Liverpool di Liga Premier Inggris 9 Januari 2026 Pukul 03.00 WIB
Nilai Tertinggi
Mens Rea Pandji: Niat Jahat Bernilai Fantastis
Mengimpikan Punya Sepeda Buat Sarana Berolahraga
Lesu Darah APBN 2025, Nafsu Besar Tenaga Kurang
Resolusi 2026: Me
스리 윈탈라 아흐마드 약력
팔로우
자바의 "고대 종교", 카피타얀의 베일을 벗기다
2019년 12월 13일 01:30 |
최종 수정: 2021년 6월 18일 오후 2:04
콤파시아나는 블로그 플랫폼입니다. 이 콘텐츠는 블로거의 책임이며 콤파스의 편집 방침을 대변하지 않습니다.
https://s1.bukalapak.com/img/19549247751/w-1000/data.png, 아라스카 출판사 족자카르타
https://s1.bukalapak.com/img/19549247751/w-1000/data.png, 아라스카 출판사 족자카르타
콤파시아나에서 창의적인 아이디어를 콘텐츠 형태로 공유하세요 | 이미지 출처: Freepik
서기 1세기 이전부터 자바에는 유일신 신앙이 있었습니다. 자바인들의 조상들은 신앙은 믿고 그 가르침을 실천하는 것이지, 논쟁이나 분쟁, 전쟁의 원인이 되어서는 안 된다는 것을 깨달았습니다. 그래서 그들은 최고 존재에 대한 지식과 그분을 찾는 방법을 터득했습니다.
자바인들은 눈에 보이지 않지만 인간 삶에 선과 악을 행하는 힘을 가진 신이 존재한다고 믿었습니다. 그들은 오직 신 외에는 아무것도 숭배하지 않았습니다. 따라서 그들은 신이나 신의 피조물을 숭배하지 않았습니다. 그들은 오직 상향 타야(Sang Hyang Taya)라는 신만을 숭배했습니다.
당시 자바인들에게는 성경은 없었지만, 삶의 모든 부분에 상징적으로 표현된(암시적으로 표현된) 암호 언어가 있었고, 그 안에 담긴 가르침은 일정한 규칙을 가지고 있었기에 변치 않았다고 믿었습니다. 이 모든 것들은 예절(고귀한 삶의 규칙)의 주요 행동 양식을 형성하고 자바인을 안자와니(자바인의 인격)로 만드는 암묵적인 가르침입니다.
윤리를 이해하는 자바인들은 이주민들이 가져온 종교적 가르침(힌두교, 불교, 이슬람교, 기독교 등)이 유일신 신앙이라는 궁극적인 목적과 일치하는 한 항상 받아들였습니다. 따라서 이주민들이 가져온 많은 종교들은 설교의 기반을 자바에서 찾았습니다.
자바인의 조상들은 종교를 일련의 행동 양식이 수반되는 태도와 가치관의 집합체로 여겼습니다. 그들의 가르침은 엄격한 규칙에 얽매이지 않고 "균형"이라는 개념을 강조합니다. 그들은 거의 종교 전파 활동을 하지 않지만, 정기적인 코칭을 제공합니다.
크리, 와양, 만트라 낭송, 상징적 의미를 지닌 특정 꽃의 사용과 같은 자바 전통 도구의 형태로 나타나는 상징들은 마법적인 권위를 나타내는 것이지 가르침의 본질을 나타내는 것은 아닙니다. 케자웬 수행자들이 조상의 가르침을 임상 및 샤머니즘적 관행을 통해 쉽게 활용해 왔다는 것은 부인할 수 없는 사실입니다. 비록 그 행위 자체가 조상의 가르침에 직접적으로 근거하지는 않더라도 말입니다.
또한 읽어보세요: 인도네시아 고대 카피타얀 종교 엿보기
카피타얀 가르침에 대한 기본 이해
이슬람교가 전파되기 전 자바에는 카피타얀이라는 고대 종교가 있었습니다. 네덜란드 역사학자들은 이를 애이런즘과 다이내믹즘으로 정의합니다. 이 종교는 향타야의 가르침과 신앙에서 발전한 것입니다.
카피타얀 신도들이 숭배하는 향타야는 "비어 있음" 또는 "텅 비어 있음"이라는 의미를 지닙니다. 자바인들은 향타야를 "Tan kena kinaya ngapa"(그의 존재는 무시할 수 없다)라는 한 문장으로 정의합니다. 그러므로, 숭배받기 위해 상향타야는 초자연적인 힘을 의미하고 아디코드라티(adikodrati)인 "투(Tu)" 또는 "토(To)"라는 이름과 본성으로 현현합니다.
고대 자바어에서 "타야(taya)"는 비어 있음 또는 공허함을 의미하지만, 단순히 아무것도 없음을 뜻하는 것은 아닙니다. "타야"라는 용어는 "탄 케나 키나야 응아파(tan kena kinaya ngapa)"라는 표현, 즉 볼 수도 없고 꿈꿀 수도 없는 것, 있으면서도 없는 것을 나타내는 데 사용됩니다.
다음 페이지
평가
이 글에 대한 당신의 생각은 어떻습니까?
최신 유용한 영감 흥미로운 재미있는 독특한
댓글 남기기
보내기
인문학
더 많은 인문학 콘텐츠 보기
관련 콘텐츠
인도네시아 어린이들의 7가지 중요한 습관: 디지털 시대의 어린이 보호
인도네시아 어린이들의 7가지 중요한 습관: 디지털 시대의 어린이 보호
청소년의 문란한 성생활을 유발하는 요인으로서의 가정 환경
청소년의 문란한 성생활을 유발하는 요인으로서의 가정 환경
노래 - 나시 아킹의 집에서 하나님의 포옹
노래 - 나시 아킹의 집에서 하나님의 포옹
